
Sinopsis
Sajak-sajak Chye Retty Isnendes yang dimuat dalam kumpulan Kidang Kawisaya nampak menonjol karena memperlihatkan usaha yang tidak kunjung jemu dalam mencari bentuk yang cocok untuk mewujudkan gelombang perasaan atau kristal pemikirannya. Untuk Chye tidak mudah, sebab ia ingin mendapatkan bentuk yang otentik. Kata-kata dicarinya baik dari khazanah lama maupun baru untuk membentuk metafora yang sebelumnya tak pernah dipakai orang. Dalam sajak-sajaknya kita temukan kata-kata arkhaik yang sudah tak pernah terdengar dalam percakapan sehari-hari seperti “mokla” (darah), “brangta” (berahi, cinta), “badra” (bulan), “puspa” (kembang), “tirta” (air), “puspita” (bunga), “honeng” (rindu), “jaladri” (lautan), “wiati” (langit), “Ki Rakéan” (sebutan kepada lelaki zaman Pajajaran), “apsari” (bidadari), “patrem” (tusuk sanggul yang digunakan juga sebagai senjata wanita), “duruwiksa” (mahluk jahat), dll.
Memang banyak sajak cinta remaja, tapi dunia Chye yang bersumber pada keyakinan agama, memperlihatkan cakrawala yang lebih luas: sajak-sajaknya banyak yang menunjukkan minatnya terhadap masalah-masalah sosial seperti sajak “Kidang Kawisaya” yang melukiskan kijang yang “sasab ka leuweung gedong geledegan” (tersesat ke dalam rimba gedung belantara), sajak “Bulan Tok” yang melukiskan bulan yang diusir dari kota-kota, yang dalam sajak “Impresi Bulan” disebut “kalebuh taya nu maturan” (tenggelam sendirian), sebab “industrialisasi/teu pisan miduli sakuriling/bungkingna” (industrialisasi tak peduli akan keadaan lingkungan).